Karya Anak Bangsa
Indonesia punya banyak sumber daya manusia yang mumpuni dan
berkualitas. Banyak karya yang lahir dari kreativitas anak bangsa.
Namun, sayangnya, tak sedikit dari mereka yang kurang ‘diakui.’Kurang
mendapatkan apresiasi dari pemerintah dan masyarakat Indonesia itu
sendiri.
Dalam beberapa kasus ada anak bangsa yang nekad. Mereka mampu
berkreasi di level yang tinggi. Hanya saja, kenekadan itu justru
dihargai di negeri tetangga. Bukan apresiasi dari dalam negeri. Ironis.
Berikut 7 karya anak bangsa Indonesia yang lebih dihargai di negeri lain:
1. Warsito Purwo Taruno, Penemu Pembasmi Kanker

Pria kelaharian Karanganyar, 48 tahun silam ini merupakan ilmuwan asal
Indonesia yang berhasil menemukan alat pembasmi kanker. Berbekal
pendidikan hingga jenjang S3 di Jepang dan pengalaman riset di Amerika
Serikat, dia berhasil menciptakan teknologi
Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT) yang ditanamkan pada alat tersebut.
Awal mulanya, alat itu diciptakan untuk menyembuhkan kanker payudara
stadium 4 yang dialami sang kakak. Dalam waktu beberapa bulan setelah
pemakaian alat tersebut, hasil tes laboratorium menyatakan bahwa sang
kakak dinyatakan bersih dari sel kanker yang hampir merenggut nyawanya.
Sayangnya, ketika dia ingin mengembangkan dan memasarkan produknya di
Indonesia, dia tidak mendapatkankan kejelasan perihal izin edar dari
lembaga kesehatan Indonesia. Regulasi yang ada sekarang lebih mengarah
ke peredaran alat dari luar negeri dibanding alat dalam negeri.
Tanpa diduga, negara tempat dia mengenyam pendidikan hingga S3 itulah
yang menghargai dan memesan produk buatannya. Hal itu dikarenakan
berdasarkan hasil uji coba dinilai lebih efisien menyembuhkan sel
kanker. Kini para ahli kanker di negara lain seperti Cina, Malaysia, dan
Singapura mempelajari perawatan kanker menggunakan teknologi buatan
Warsito.
2. Muhammad Nurhuda, Pencetus Kompor Biomassa

Karya Muhammad Nurhuda ini memang tampak seperti biasa saja, yaitu
kompor. Namun, kompor tesebut merupakan kompor yang hemat bahan bakar
dan ramah lingkungan. Kompor tersebut berbasis biomassa yang pembuangan
emisi gasnya jauh di bawah ketetapan
World Health Organization
(WHO). Akan tetapi, dalam proses pengembangannya sejak tahun 2008,
kompor biomassa ciptaan Nurhuda kurang begitu diminati masyarakat
Indonesia.
Tidak pantang menyerah, Nurhuda yang merupakan seorang Dosen di
Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur tersebut mencoba untuk
memasarkan ke luar negeri dan banyak negara yang meilirik produk
ciptaannya. Diantaranya Norwegia, India, Meksiko, dan lain-lain. Kini
kompor biomassa tersebut sudah dipasarkan secara massal di Norwegia.
(
Baca Juga:
7 WNA yang Hidupnya Untuk Indonesia )
3. Khoirul Anwar, Penemu Teknologi Broadband

Pria kelahiran Kediri pada tahun 1978 ini merupakan salah satu penemu
Indonesia yang lebih dihargai di negeri lain. Produk yang dia buat yaitu
teknologi
broadband yang menjadi awal lahirnya jaringan teknologi
4G LTE, yang sekarang sudah banyak dikembangkan dan dipakai di berbagai negara di dunia.
Adanya keterbatasan peralatan dan kurangnya penghargaan pemerintah
Indonesia terhadap hasil karya anak bangsa membuat pria lulusan S3 dari
Nara Institute of Science and Technology (NAIST) mengurungkan niat untuk
melakukan penelitiannya di Indonesia. Kini teknologi yang dia ciptakan
itu sudah mendapatkan paten atas namanya dan sudah digunakan di berbagai
sistem komunikasi dan satelit.
4. Aryanto Yuniawan, Sutradara Film Animasi

Aryanto merupakan seorang sutradara muda yang membuat film animasi
Indonesia besutan MSV Pictures yaitu Battle of Surabaya. Film ini
menceritakan tentang sejarah perjuangan arek-arek Surabaya ketika
pertempuran 10 November 1945. Pada awalnya, film yang kurang lebih
menghabiskan biaya produksi sekitar Rp 15 milyar ini kurang begitu
mendapat tempat di negeri sendiri.
MSV Pictures sudah berupaya untuk menawarkan ke beberapa stasiun
televisi agar dapat ditayangkan. Tetapi, tidak ada satupun yang mau
menyangkannya. Penolakan tersebut yang menjadi acuan bagi MSV Pictures
hingga akhirnya dilirik oleh Walt
Disney Pictures yang turut membantu dalam segi teknis dan berniat untuk membeli film tersebut.
5. Peter Firmansyah, kreator Brand Clothing Line

Petersaysdenim (PSD) merupakan
brand clothing line asal Bandung yang diciptakan oleh Pria berumur 31 tahun silam tersebut. PSD pada awalnya memang dipasarkan internasional secara
online
menggunakan situs jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter.
Menurut dia, orang-orang Indonesia masih kurang menghargai produk lokal
yang asli buatan negeri sendiri. Kini brand tersebut dapat disandingkan
dengan
brand-brand terkenal seperti Volcom, Ripcurl, dan
lain-lain. Produk PSD juga banyak digunakan oleh para musisi seperti
internasional seperti Silverstein dari Kanada dan Not Called Jinx dari
Jerman.
6. Ali Zhum Massar, Penemu Mikroba

Ilmuwan Lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini merupakan penemu
mikroba yang dapat mengembalikan kondisi kesuburan tanah. Mikroba
tersebut lalu dimasukkan ke pupuk temuannya yang bernama P2000Z, yang
diciptakan tahun 2000 dan Z sebagai insial dari namanya. Namun
sayangnya, temuan itu tak mendapatkan tempat di Indonesia. Alhasil, dia
dipercaya oleh pemerintah
Dubai untuk menerapkan pupuk buatannya di tanah negeri Timur Tengah itu. Tujuannya agar menjadi tanah Dubai menjadi subur dan dapat ditanami.
7. Arfi’an Fuadi dan Arie Kurniawan, Pendiri D-Tech Engineering

Arfi’an Fuadi merupakan lulusan SMK jurusan Mekanik Otomotif di SMK
Negeri 7 Semarang. Dia tidak dapat melanjutkan ke jenjang universitas di
Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang karena ijazah yang dimiliki
tidak sesuai dengan fakultas yang diinginkan yaitu Fakultas Teknik
Elektro.
Penolakan tersebut sempat membuat dia kecewa. Namun, dia bersama
adiknya, Arie Kurniawan tidak menyerah dan mencoba belajar tentang
teknik 3D
design engineering secara otodidak dari referensi yang mereka dapat dari internet. Banyak prestasi yang mereka dapatkan. Diantaranya juara 3D
design enginereeng, untuk kategori
Jet Engine Bracket yang diselenggarakan oleh
General Electric
(GE) di Amerika Serikat yang mengalahkan lebih dari 700 peserta dari 56
negara. Selain itu, mereka juga pernah mengalahkan doktor serta
mahasiswa S3 di luar negeri pada kompetisi
Computer Aided Design (CAD). Kini usaha mereka bernama D-Tech Engineering di Salatiga tersebut sudah menangani
client berbagai negara di dunia.