Rabu, 25 Januari 2017

Karya Anak Bangsa

     

              Karya Anak Bangsa 

6109
Indonesia punya banyak sumber daya manusia yang mumpuni dan berkualitas. Banyak karya yang lahir dari kreativitas anak bangsa.  Namun, sayangnya, tak sedikit dari mereka yang kurang ‘diakui.’Kurang mendapatkan apresiasi dari pemerintah dan masyarakat Indonesia itu sendiri.
Dalam beberapa kasus ada anak bangsa yang nekad. Mereka mampu berkreasi di level yang tinggi. Hanya saja, kenekadan itu justru dihargai di negeri tetangga. Bukan apresiasi dari dalam negeri. Ironis.
Berikut 7 karya anak bangsa Indonesia yang lebih dihargai di negeri lain:
1. Warsito Purwo Taruno, Penemu Pembasmi Kanker

Screenshot_595
Pria kelaharian Karanganyar, 48 tahun silam ini merupakan ilmuwan asal Indonesia yang berhasil menemukan alat pembasmi kanker. Berbekal pendidikan hingga jenjang S3 di Jepang dan pengalaman riset di Amerika Serikat, dia berhasil menciptakan teknologi Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT) yang ditanamkan pada alat tersebut.
Awal mulanya, alat itu diciptakan untuk menyembuhkan kanker payudara stadium 4 yang dialami sang kakak. Dalam waktu beberapa bulan setelah pemakaian alat tersebut, hasil tes laboratorium menyatakan bahwa sang kakak dinyatakan bersih dari sel kanker yang hampir merenggut nyawanya.
Sayangnya, ketika dia ingin mengembangkan dan memasarkan produknya di Indonesia, dia tidak mendapatkankan kejelasan perihal izin edar dari lembaga kesehatan Indonesia. Regulasi yang ada sekarang lebih mengarah ke peredaran alat dari luar negeri dibanding alat dalam negeri.
Tanpa diduga, negara tempat dia mengenyam pendidikan hingga S3 itulah yang menghargai dan memesan produk buatannya. Hal itu dikarenakan berdasarkan hasil uji coba dinilai lebih efisien menyembuhkan sel kanker. Kini para ahli kanker di negara lain seperti Cina, Malaysia, dan Singapura mempelajari perawatan kanker menggunakan teknologi buatan Warsito.
2. Muhammad Nurhuda, Pencetus Kompor Biomassa

kompor-biomasa-di-indonesiaproud-wordpress1-com
Karya Muhammad Nurhuda ini memang tampak seperti biasa saja, yaitu kompor. Namun, kompor tesebut merupakan kompor yang hemat bahan bakar dan ramah lingkungan. Kompor tersebut berbasis biomassa yang pembuangan emisi gasnya jauh di bawah ketetapan World Health Organization (WHO). Akan tetapi, dalam proses pengembangannya sejak tahun 2008, kompor biomassa ciptaan Nurhuda kurang begitu diminati masyarakat Indonesia.
Tidak pantang menyerah, Nurhuda yang merupakan seorang Dosen di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur tersebut mencoba untuk memasarkan ke luar negeri dan banyak negara yang meilirik produk ciptaannya. Diantaranya Norwegia, India, Meksiko, dan lain-lain. Kini kompor biomassa tersebut sudah dipasarkan secara massal di Norwegia.
( Baca Juga: 7 WNA yang Hidupnya Untuk Indonesia )
3. Khoirul Anwar, Penemu Teknologi Broadband

19-penemu-4G-1
Pria kelahiran Kediri pada tahun 1978 ini merupakan salah satu penemu Indonesia yang lebih dihargai di negeri lain. Produk yang dia buat yaitu teknologi broadband yang menjadi awal lahirnya jaringan teknologi 4G LTE, yang sekarang sudah banyak dikembangkan dan dipakai di berbagai negara di dunia.
Adanya keterbatasan peralatan dan kurangnya penghargaan pemerintah Indonesia terhadap hasil karya anak bangsa membuat pria lulusan S3 dari Nara Institute of Science and Technology (NAIST) mengurungkan niat untuk melakukan penelitiannya di Indonesia. Kini teknologi yang dia ciptakan itu sudah mendapatkan paten atas namanya dan sudah digunakan di berbagai sistem komunikasi dan satelit.
4. Aryanto Yuniawan, Sutradara Film Animasi

334070_aryanto-battle-of-surabaya_663_382
Aryanto merupakan seorang sutradara muda yang membuat film animasi Indonesia besutan MSV Pictures yaitu Battle of Surabaya. Film ini menceritakan tentang sejarah perjuangan arek-arek Surabaya ketika pertempuran 10 November 1945. Pada awalnya, film yang kurang lebih menghabiskan biaya produksi sekitar Rp 15 milyar ini kurang begitu mendapat tempat di negeri sendiri.
MSV Pictures sudah berupaya untuk menawarkan ke beberapa stasiun televisi agar dapat ditayangkan. Tetapi, tidak ada satupun yang mau menyangkannya. Penolakan tersebut yang menjadi acuan bagi MSV Pictures hingga akhirnya dilirik oleh Walt Disney Pictures yang turut membantu dalam segi teknis dan berniat untuk membeli film tersebut.
5. Peter Firmansyah, kreator Brand Clothing Line

Peter-Firmansyah
Petersaysdenim (PSD) merupakan brand clothing line asal Bandung yang diciptakan oleh Pria berumur 31 tahun silam tersebut. PSD pada awalnya memang dipasarkan internasional secara online menggunakan situs jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter. Menurut dia, orang-orang Indonesia masih kurang menghargai produk lokal yang asli buatan negeri sendiri. Kini brand tersebut dapat disandingkan dengan brand-brand terkenal seperti Volcom, Ripcurl, dan lain-lain. Produk PSD juga banyak digunakan oleh para musisi seperti internasional seperti Silverstein dari Kanada dan Not Called Jinx dari Jerman.
6. Ali Zhum Massar, Penemu Mikroba
jual-pupuk-mikroba-google-bio-p2000z-di-bantul-jogjakarta
Ilmuwan Lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini merupakan penemu mikroba yang dapat mengembalikan kondisi kesuburan tanah. Mikroba tersebut lalu dimasukkan ke pupuk temuannya yang bernama P2000Z, yang diciptakan tahun 2000 dan Z sebagai insial dari namanya. Namun sayangnya, temuan itu tak mendapatkan tempat di Indonesia. Alhasil, dia dipercaya oleh pemerintah Dubai untuk menerapkan pupuk buatannya di tanah negeri Timur Tengah itu. Tujuannya agar menjadi tanah Dubai menjadi subur dan dapat ditanami.
7. Arfi’an Fuadi dan Arie Kurniawan, Pendiri D-Tech Engineering

09532301-01-banjir2114780x390
Arfi’an Fuadi merupakan lulusan SMK jurusan Mekanik Otomotif di SMK Negeri 7 Semarang. Dia tidak dapat melanjutkan ke jenjang universitas di Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang karena ijazah yang dimiliki tidak sesuai dengan fakultas yang diinginkan yaitu Fakultas Teknik Elektro.
Penolakan tersebut sempat membuat dia kecewa. Namun, dia bersama adiknya, Arie Kurniawan tidak menyerah dan mencoba belajar tentang teknik 3D design engineering secara otodidak dari referensi yang mereka dapat dari internet. Banyak prestasi yang mereka dapatkan. Diantaranya juara 3D design enginereeng, untuk kategori Jet Engine Bracket yang diselenggarakan oleh General Electric (GE) di Amerika Serikat yang mengalahkan lebih dari 700 peserta dari 56 negara. Selain itu, mereka juga pernah mengalahkan doktor serta mahasiswa S3 di luar negeri pada kompetisi Computer Aided Design (CAD). Kini usaha mereka bernama D-Tech Engineering di Salatiga tersebut sudah menangani client berbagai negara di dunia.

Kamis, 05 Januari 2017

Selamat Datang Guys

Hai !! Para pengunjung mungkin ini hanya bualan konyol dan tidak menguntungkan anda
      TETAPI ini ucapan dari pembuat blog yang keren ini !!